Presiden RI Anugerahi Bintang Jasa Utama Pada Eurico Guterres, Ini Pendapat Seorang Warga TL

by -158 views
Photo Tempo.co

Direktur Eksekutif Centro Nasionál Chega,I.P, Timor-Leste, Hugo Fernandes Menulis dengan Judul; Sejauh mana dan sedalam apa arti Persahabatan Indonesia dengan Timor-Leste?

Saya berkesempatan menjadi salah seorang perumus dan penulis Laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Timor-Leste dan Indonesia yang berjudul Dari Memori Menuju Harapan ( Per Memoriam AD Spem). Laporan ini saya anggap maha karya dari keinginan mulia dua bangsa untuk belajar dari masa lalu agar tidak mengulang sejarah pahit dan memalukan yang tertoreh dan masih membekas di setiap relung kehidupan rakyat Timor-Leste akibat Kejahatan Kemanusiaan yang dilakukan Rejim Militer Orde Baru selama 24 tahun dan memuncak pada tahun 1999, pada periode sebelum, selama dan setelah Jajak Pendapat di Timor-Leste.

Selama tahun 2005 hingga 2008, saya menyaksikan betapa besar keteguhan para Pemimpin kedua bangsa untuk memastikan kepada dunia bahwa Timor-Leste dan Indonesia bisa menyelesaikan masa lalu kedua bangsa secara ksatria dengan menerima kenyataan bahwa ada luka yang harus disembuhkan agar tidak menjadi bernanah dan terus menyakiti rakyat kedua bangsa dalam menjalin persahatan yang hakiki.

Saya menjadi saksi ketika mendengar dari Mantan Presiden Habibie, Mantan Panglima TNI, Jenderal Wiranto, Mantan Panglima Milisi Pro Otonomi, Eurico Guterres – yang saat itu masih dipenjara di Cipinang karena terbukti melakukan Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crimes Againts Humanity- CAH) memberi kesaksian dan bertekad untuk menjalin hubungan yang bersahabat dengan Rakyat Timor-Leste demi ketenangan batin kedua bangsa.

Tapi tak disangka, kemarin saya menerima kabar tidak bersahabat dari Presiden Joko Widodo bahwa, mantan narapidana pelaku Kejahatan Terhadap Kemanusiaan terhadap rakyat Timor-Leste akan dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh Presiden Indonesia. Kabar ini bagaikan menabur garam ke luka yang belum benar-benar kering dijiwa dan raga Rakyat Timor-Leste.

Kabar ini juga menjadi godam hitam yang menghantam keras niat mulia kedua Bangsa untuk menjadi guru persahabatan bagi negara lain. Niat yang menjadi dorongan besar agar Laporan KKP menjadi inseklopedi dunia tentang arti bersahabat meski masa lalu begitu suram.

Tahun ini, Per Memoriam AD Spem berusia 13 tahun. Bulan lalu saya masih sempat menjadi pembicara di webiner untuk merayakan persahabatan Timor-Leste dan Indonesia. Ada pejabat tinggi Indonesia dari Kementrian Luar Negeri Indonesia, Kementrian Hukum dan HAM, dan KOMNAS HAM dan semuanya bertekad untuk terus mengimplementasikan Rekomendasi Laporan KKP meskipun harus perlahan. Saya menjadi makin besar harapan bahwa Persahabatan ini akan langgeng dan tidak tercela oleh “ superioritas politik” Indonesia atas “inferioritas diplomat” Timor-Leste dalam menetapkan Rekomendasi Per Memoriam Ad Spem apa yang harus dilaksanakan bersama sebagai janji bersahabat kedua bangsa.

Saat ini, saya membayangkan apa yang terlintas dibenak mantan Presiden SBY, Mantan Presiden Xanana, Mantan Perdana Menteri, Mari Alkatiri dan Mantan Presiden, José Ramos-Horta ketika mereka mendengar Presiden Joko Widodo merobohkan dan menenggelamkan perahu persahabatan yang mereka rakit dan labuhkan di samudra harapan?

Merenungi setiap jejak-jejak tapak sejarah persahabatan yang diletakan dari 2005 hingga saat ini, saya hanya bisa bertanya: Sejauh Mana dan Sedalam Apa Presiden Joko Widodo mengartikan Persahabatan Timor-Leste dengan Indonesia?

Apakah hanya dengan menyejajarkan Mantan Narapidana CAH, Euroco Guterres dengan Panglima Besar Soedirman?

Nasi Telah Menjadi Bubur-Luka Kembali Bernanah – Persabahatan telah Ternoda!

Selamat Malam Presiden Joko Widodo – Selamat Berjabat Tangan Berdarah, Eurico Guterres!

Rua Manu Aman, Dili

13 Agustus 2021

Di kutip dari status sosial Hugo Fernandes

No More Posts Available.

No more pages to load.