LOCKDOWN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH TIMOR LESTE YANG ‘PLIN-PLAN’

by -469 views

Domingos Almeida, SVD

Covid-19 merupakan masalah global yang dialmi oleh semua negara termasuk negara-negara yang sudah berkembang. Berbagai permasalahan sosial dan ekonomi muncul di tengah masyarakat. Tak dapat dipungkiri jika Covid-19 telah melumpuhkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Akibat kasus Covid-19 ini, hampir semua negara telah melakukan berbagai kebijakan seperti mengeluarkan himbauan social distancing, mengeluarkan himbauan untuk Work From Home bagi pegawai, memberlakukan pembatasan wilayah, membangun Rumah Sakit khusus untuk penanganan Covid-19, lockdown dan lain-lain. Dengan adanya kebijakan pemerintah ini serta situasi yang semakin genting, tentunya memberikan dampak bagi masyarakat, baik masyarakat menengah ke bawah hingga kalangan elit. Berbagai masalah sosial ekonomi muncul dan dampaknya langsung terasa oleh masyarakat.

Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis, dan kebudayaan.

Di Timor Leste covid-19 sungguh berdampak buruk dan berakibat fatal bagi semua masyarakat kecil. Lockdown merupakan satu-satunya cara yang dilakukan oleh pemerintah Timor Leste untuk mengurangi penyebaran virus yang mematikan ini. Di sisi lain lockdown justru mematikan masyarakat yang hidupnya bergantung pada sumber daya alam dan berjualan. Lockdown dapat diartikan sebagai penutupan akses di sebuah area, baik itu akses masuk maupun akses keluar. Ketika sebuah area memberlakukan lockdown, baik itu negara, provinsi, kota atau kabupaten, bahkan hingga wilayah yang lebih kecil seperti kecamatan dan desa, masyarakat yang tinggal di sana tidak hanya dilarang untuk bepergian ke luar area, tapi juga tidak diperbolehkan untuk beraktivitas di luar ruangan.

Meskipun, maksud dan tujaun dari lockdown ini untuk mengurangi penyebaran covid-19 tetapi ada resiko yang sangat besar dalam menerapkan lockdown ini. Terutama efeknya terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah yang menerapkan kebijakan lockdown ini. Salah satunya adalah dampak psikologis, seperti perasaan takut, cemas, kesepian, dan terasing dari lingkungan sekitar. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang dan memicu masalah kesehatan mental. Tidak hanya itu tetapi ada juga efek dari segi ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari lockdown.

Dalam hari-hari terakhir ini, banyak masyarakat yang mengeluh akibat lockdown yang berkepanjangan. Masyarakat tidak bisa beraktivitas dengan baik dan untuk mencari nafkah pun dibatasi. Sebagian masyarakat yang nafkahnya berasal dari pekerjaan yang harus dilakukan di luar rumah pun jadi benar-benar merasakan dampaknya.

Efeknya, penghasilan mereka menurun. Lockdown yang pada awalnya bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus ini justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat. Situasi seperti ini harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah dalam penanganan covid-19, tidak hanya berbicara banyak tetapi berbuatlah sesuatu yang baik untuk masyarakat dan negara. Masyarakat mengeluh, menanggis dan berteriak, tetapi pemerintah seolah-olah diam dan masa bodoh. Aneh tapi nyata.

Keputusan pemerintah Timor Leste menerapkan lockdown di beberapa wilayah terkesan plin-plan dan tidak jelas. Ada beberapa kebijakan pemerintah yang hemat saya plin-plan dan tidak jelas arahnya. Misalnya, pemerintah memutuskan bahwa Dili harus lockdown total, semua akses yang masuk keluar Dili ditutup sementra begitupun masyarakat dilarang keras untuk tidak masuk ke Dili dan juga sebaliknya. Semua aparat keamanan diturungkan dan menjaga di beberapa pintu masuk ke kota Dili. Dili sepertinya sedang menghadapi musuh yang datang dari luar. Meskipun begitu, dalam kenyataan masih banyak pejabat negara yang berkeliarang dan melakukan perjalanan ke luar kota bahkan ada yang ke luar negeri. Pertanyaannya, apakah lockdown ini hanya diterapkan atau diberlakukan untuk masyarakat kecil saja atau untuk semua. Jika untuk semua, mengapa masih ada oknum pemerintah yang diperbolehkan untuk beraktivitas. Kemudian persoalan lain tentang vaksin. Beberapa bulan lalu pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa bagi masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin lengkap (vaksin pertama dan kedua) bebas melakukan aktivitas apa saja tetapi tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Akhirnya semua diharuskan untuk ikut vaksin dan kartu vaksin menjadi bukti bahwa seseorang sudah bebas beraktivitas karena sudah divaskin. Namun, tiba-tiba saja semuanya berubah dalam hitungan detik. Pemerintah melarang masyarakat untuk tidak boleh beraktivitas meskipun sudah mendapatkan vaksin lengkap dan alasan yang diberikan pun tidak jelas.

Kebijakan semacam ini terkesan plin-plan karena membingungkan masyarakat. Hari ini mengeluarkan kebijakan lain dan besok lain lagi, lockdown yang selalu diperpanjang ini menjadi ancaman baru bagi masyarakat. Anehnya lagi, semua orang menjadi ahli/dokter (cleaning service, polisia,) untuk mengdiangnosa orang.

Sebenarnya tugas mereka itu apa dan tugas para tenaga medis itu apa. Pemerintah semacam memakai aparat keamanan (Polisia) untuk menakut-nakuti masyarakat.

Kebijakan yang tidak jelas ini membuat masyarakat jadi muak dan tidak disiplin lagi. Pemerintah selalu menyalahkan masyarakat karena tidak mengikuti aturan yang telah dikeluarkan.

Sebetulnya pemerintah harus melihat diri dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, apakah dalam kenyataan sesuai atau tidak, jangan sampai pemerintah sendiri melanggar aturan. Pemerintah seharusnya tidak menyalahkan masyarakat yang dianggap keliru memahami narasi-narasi kebijakan pemerintah. Kebijakan membingungkan dari pemerintah ini tentu berdampak tidak disiplinnya masyarakat selama lockdown.

Bagaimana masyarakat akan disiplin dengan kebijakan pemerintah jika wacana yang muncul malah membingungkan. Pemerintah hendaknya menyampaikan informasi yang jelas dan akurat kepada masyarakat dan meyakinkan masyarakat agar mejaga diri dengan mengikuti segala aturan yang dikeluarkan oleh WHO bukan menakut-nakuti masyarakat apalagi menggunakan aparat keamanan untuk mengamankan situasi. Pemerintah hendaknya mempertimbangkan lagi apakah hanya dengan lockdown yang tidak jelas arahnya ini dapat menghilangkan covid-19 di Timor Leste atau mungkin ada cara lain yang bisa membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi global ini.

Pemerintah juga harus membuka mata dan belajar dari negara-negara Eropa yang sudah bebas dan menganggap bahwa covid-19 merupakan ‘flu biasa’ yang tidak begitu berbahaya yang terpenting adalah semua harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Pemerintah seharusnya bekerja sama dengan masyarakat agar penanganan covid-19 dapat berjalan dengan baik dan semua segera bebas dari pandemi ini, bukan menyalahkan masyarakat dan membuat masyarakat terus menderita seperti sekarang ini. Semoga semua tetap menjaga kesehatan. Salam sehat.

No More Posts Available.

No more pages to load.