Connect with us

Cerpen

TANGIS DI KAMIS SENJA (4)

Published

on

Read Time2 Minutes, 42 Seconds

Oleh: Kondradus Y. Klau

Cantika dan ibunya masih berbaring pulas. Bisa kubayangkan, betapa naasnya nasib mereka. Melihat kondisi ini pikiranku makin menjelajah, mencoba menebak-nebak pokok persoalan ini.

Setelah mendengar secuil cerita ibu Cantika, aku pun termenung sambil menunggu pagi untuk mendapat cerita lengkap dari ibu dan anak yang malang.

Pagi hari, masih kuingat jarum jam memunjukkan tepat pukul 05.00, saat ibu itu memanggil anaknya Cantika.

“Cantika, anakku. Kamu sudah siuman nak?”

Ternyata Cantika sudah sadarkan diri. Matanya berbinar, menerawang plafon rumah sakit yang putih.
Dalam benaknya mungkin ia bertanya-tanya di mana dia berada saat ini. Ia menoleh ke kanan dan kiri; di sisi kiri tempat tidurnya duduk ibunya sambil setengah tersenyum bahagia.

“Kamu akan sembuh, nak!” Kata ibu Cantika sambil berdiri menghampirinya.

Pelukan hangat dan mesra dia berikan kepada anaknya. Dalam nian. Si ibu benar-benar senang Cantika sudah siuman.

Aku duduk termangu di kursi dekat pintu masuk, melihat ibu dan anak hangat dalam pelukan mesra. Ada rasa lega, haru dan bahagia di sana. Akh, hati ini, entah apa yang bisa kukatakan lagi.

Namun, aku masih saja belum tenang. Ada soal yang harus saya pecahkan. Mengapa rumah ibu dan anak ini digusur?

“Ibu, boleh kita bicara sebentar?” Tanyaku hati-hati.

“Iya, nak. Boleh”.

“Bu, tolong ceritakan kepada saya mengapa rumah ibu digusur, dan mengapa ibu dan Cantika bertahan di sana?”

“Nak, seperti yang sudah ibu ceritakan. Saat itu datang orang-orang dari perusahaan dan pimpinan wilayah. Mereka datang tanpa permisi, menyerobot masuk dengan alat berat dan menggusur rumah kami. Ibu tak tahu apa sebab. Mungkin karena ibu janda dan tak punya lagi sandaran hidup maka ibu dan Cantika dibuat seperti ini. Ibu tahu, ibu orang kecil. Tapi ini tanah kami, ini hak kami yang dirampas. Mengapa direnggut? Beginikah caranya pemimpin melindungi rakyatnya?”

“Nak, ibu tak bisa melawan. Yang ibu lakukan adalah bertahan dalam rumah dan terjadilah: rumah dirubuhkan, sedang ibu dan Cantika di dalam berlindung di bawah meja makan. Beruntung, reruntuhan tembok tidak langsung menimpa kami dan menghilangkan nyawa kami. Demikianlah mereka meluluhlantahkan kepunyaan kami, satu-satunya kepunyaan kami, tempat kami berteduh, berlindung dari panas dan hujan.” Ibu itu terisak.

Oh, betapa kejamnya dunia ini. Betapa jahatnya orang-orang yang berada dalam kekuatan kekuasaan. Mereka bertindak sesuka hati. Tiada belas kasihan. Betapa memilukan negeri ini memperlakukan anak-anak negeri bagai budak.

Betapa penguasa sudah kehilangan nurani pengasih. Di benak mereka seberapa untung yang didapat, di pikiran mereka seberapa besar rupiah yang mengendap di dompet kusam mereka.

“Yang miskin harus dilindungi dan disejahterakan bukannya ditindas. Yang kaya janganlah semena-mena karena kita sama sebagai manusia. Penguasa jangan buta hati dan mata, hidup itu sementara”, jeritku dalam hati.

Sesaat aku dan si ibu terdiam. Karena tiba-tiba datang Cantika di tengah kami.

Dengan lirih Cantika berkata kepada ibunya: “Bu, maafkan mereka. Biarkan Tuhan yang membalas perbuatan mereka”.

“Oh Tuhan, betapa mulia hati dan pemikiran anak ini. Disusahkan tetapi mampu memaafkan. Akh, Cantika yang malang. Anak yang manis dan pemaaf. Cantika yang naas tapi mampu mengampuni”.

“Anak ini adalah anak yang baik. Dia akan menjadi hebat dan luar biasa nanti. Oh, anak manis pemilik tangis di Kamis Senja. Dia akan bertumbuh menjadi gadis kuat dan perkasa dalam kelembutan keperempuanannya. Kuyakin saat ini, Tangis di Kamis Senja akan berubah menjadi senyum dan tawa bahagia kelak. Semoga Tuhan melindungi dan memberkati masa depanmu, Cantika!” Kata hati kecilku.

3 0
Happy

Happy

0 %

Sad

Sad
0 %

Excited

Excited
0 %

Sleppy

Sleppy

0 %

Angry

Angry
0 %

Surprise

Surprise
0 %

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: