Siswi SMP di Malaka Dipukul Guru Sampai Memar, Begini Kata Aktivis

Read Time2 Minute, 40 Second

TIMORPOST.COM/BETUN – Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik St. Isidorus Besikama, Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT dipukuli  gurunya sampai memar, Rabu (4/3/2020) karena menunggak uang sekolah selama tiga bulan.

Informasi yang berhasil dihimpun timorpost.com, siswi yang diketahui bernama Paulina Ewinda Sadipun (PES) dan duduk di bangku kelas VII SMP ini awalnya disuruh guru untuk meminta uang sekolah ke orangtuanya di rumah.

Sesampai di rumah, ibu PES mengaku belum memiliki uang sejumlah yang harus dibayarkan, yakni sebesar Rp. 180.000,- sehingga ibu korban meminta anaknya untuk memberitahukan ke pihak sekolah.

Orangtua PES, melalui anaknya, meminta keringanan dari pihak sekolah sampai Senin pekan berikutnya sehingga pembayarannya dilakukan sekaligus untuk 3 bulan.

Namun, penyampaian PES ke pihak sekolah terkait permintaan orangtuanya tidak disambut baik. PES dimarahi oknum guru di SMPK St. Isidorus lalu dipukul. Akibatnya, tulang kering PES memar dan membengkak.

Selain itu, PES disuruh untuk tidak boleh bersekolah sampai uang tunggakan dilunaskan semuanya.

“Sampai di sekolah guru marah. Dia bilang harus bayar memang ini hari. Lalu guru itu pukul”, jelas PES.

Kepada wartawan PES menuturkan, sebenarnya bukan hanya dirinya yang dipukuli. Beberapa teman lain juga ikut dipukuli terkait penunggakan uang sekolah.

Disinggung mengenai oknum guru yang melakukan tindakan pemukulan ini, PES mengaku lupa nama gurunya karena guru tersebut adalah guru baru.

Apa kata Para Aktivis?

Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Malaka (GEMMA) Kefamenanu, kepada awak media ini, Rabu (4/3) menyampaikan, tidak seharusnya tindakan (aniaya) ini dilakukan karena masih ada cara lain yaitu melalui komunikasi antara guru dan orang tua siswa untuk mananyakan apa alasannya sehingga harus ditunda sampai hari Senin.

“Cara elok yang dilakukan selain mengeluarkan surat panggilan, guru datangi rumah siswa untuk menanyakan secara langsung dari hati ke hati dan melihat keadaan keluarga. Karena dengan cara seperti ini secara tidak langsung sudah membunuh karakter dan mental siswa”, terang Ketua GEMMA yang lazim disapa Iggy.

Menurut dia, seharusnya sebagai guru baru di sekolah perlu menyesuaikan diri dengan aturan, kondisi dan keadaan sekolah, jangan bertindak semena-mena dan main hakim sendiri.

“Uang sekolah belum dibayar 2 atau 3 bulan saja sudah lakukan tindakan seperti itu, apalagi sampai 1 semester?”, imbuhnya.

Ia memungkas, pelaku harus dihukum seadil-adilnya agar kejadian ini tidak terulang lagi.

Senada dengan itu, Kondradus Y. Klau, aktivis muda yang malang-melintang di dunia orang muda Katolik mengatakan, sekolah semestinya bisa menempuh cara lain seperti melakukan pemanggilan kepada orangtua atau mengirimkan surat pemberitahuan.

Kaki PES yang Memar dan Bengkak akibat Dianiaya Oknum Guru SMPK St. Isidorus Besikama-Malaka Barat-Malaka-NTT (Foto: gardamalaka.com)

“Tidak ada alasan untuk membenarkan tindakan guru ini. Dan sebaiknya kasus ini dilaporkan kepada polisi agar diproses hukum, karena tindakan ini tidak manusiawi”, tegas alumnus Sekolah Demokrasi Belu tersebut.

Ia meminta pihak korban segera melakukan visum, dan selanjutnya kasus ini dilaporkan ke polisi. Keluarga tidak perlu takut melaporkan tindak kriminal seperti ini kepada pihak berwajib.

“Saya bersama teman-teman aktivis akan kawal ketat kasus ini. Termasuk para wartawan kita libatkan untuk kawal”, tutup dia.

Sampai berita ini dirilis, wartawan media masih mencari informasi mendalam dari siswa yang menjadi korban aniaya lainnya.  Sedangkan Kepala SMPK St. Isidorus dan oknum guru pelaku belum berhasil dikonfirmasi. (beta/timorpost.com)

1

0

Happy

Happy

0 %

Sad

Sad
0 %

Excited

Excited
0 %

Sleppy

Sleppy

0 %

Angry

Angry
0 %

Surprise

Surprise
0 %

One thought on “Siswi SMP di Malaka Dipukul Guru Sampai Memar, Begini Kata Aktivis”

  1. Sebaiknya hal ini diselesaikan secara kekeluargaan sesuai adat kita saja. Tidak perlu ke Polisi. Diselesaikan secara adat sscara intern di pihak sekolah juga cukup membawa efek jera. Hal ini sudah dilakukan di beberapa tempat dengan kasus yg mirip dan ternyata lebih efisien dr pada harus ke polisi. Salam Hormat buat Bang Kondrad Klau.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: