Ribuan Anak di Ngada Turun Aksi Kelilingi Kota Bajawa Meriakan HAN.

Read Time3 Minute, 43 Second

Timorpost.com – Bajawa – Sekitar 1000 anak dari berbagai sekolah di Bajawa, Bajawa Utara, Golewa Selatan dan Riung, Jumat (09/08/2019) membawa poster berbagai ukuran melakukan longmarch melewati sejumlah ruas jalan utama di kota Bajawa. Aksi anak-anak keliling kota dengan iringan drumband SMPN 2 Bajawa itu menarik perhatian para pengguna jalan. Aksi ini dalam rangka meriahkan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Kabupaten Ngada tahun 2019.

Para siswa dari berbagai SD, SMP dan SMA/SMK membawa poster berbagai ukuran keluar dari halaman kantor Bupati Ngada. Mereka turun ke jalan setelah dilepas secara resmi oleh Bupati Ngada Paulus Soliwoa. Terlihat mendampingi Ketua TP PKK Ny. Kurniaty Soliwoa, Sekda Ngada Th. Yos Nono, Kepala Dinas PMD P3A, Johanes C.W Ngebu, Dansim 1625 Ngada Letkol Inf. I Made Putra Suartwan, Wakapolres Ngada Kompol. I Nyoman Suaryawirawan, sejumlah pimpinan SKPD, dan APM Wahana Visi Indonesia (WVI) Nagekeo dan Ngada, Otis Kawer Wakerkwa.

Sebelum melepas para siswa dalam longmarch dengan pengibasan bendera, Bupati Paulus Soliwoa membacakan naskah pelepasan di pendopo kantor Bupati Ngada. Peserta pertama adalah SDK Tanalodu dan peserta terakhir SMAN 1 Bajawa. Heningkan cipta dipimpin Bupati Paulus Soliwoa dan doa bersama sebelum aksi longmarch oleh Pater Armin, OCD.

(Aksi Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Kabupaten Ngada tahun 2019)

Menjelang siang, rombongan kembali diterima Bupati Ngada di pendopo Kantor Bupati Ngada. Dilanjutkan dengan orasi poster dari wakil masing-masing sekolah. Poster dalam berbagai ukuran dan penyampaian orasi poster dari hasil kreasi para siswa yang mana aksi itu dilombakan.

Isi poster sesuai dengan tema yakni ‘Stop Kekerasan Terhadap Anak’. Menyampaikan pesan-pesan yang intinya menolak kekerasan terhadap anak dalam bentuk apapun, karena akan merusak mental anak itu sendiri. Mereka juga mengutuk tindak kejahatan yang dilakukan – kebanyak orang terdekat – terhadap anak akhir-akhir ini, dan malah terus meningkat.

Duta siswa dari SDK Ngedukelu menolak tindak kekerasan dan menyampaikan, “biarkan kami bahagia di masa anak-anak, dan lepaskan dari tekanan apapun.’ Mereka juga menghimbau agar menghentikan berbagai bentuk kekerasan dari dalam keluarga, karena sebagian besar kasus terjadi karena tindakan orang-orang dekat anak.

Duta SMPN 3 Golewa Selatan menyerukan agar pendidikan tidak membawa anak pada ketakutan. Selain disebabkan oleh tindak kekerasan dalam keluarga juga dalam lingkup pendidikan. Utusan SMPN 1 Bajawa juga menyerukan agar ‘jangan menyakiti mereka (anak) karena mereka aset bangsa.

Lain SMPN 1 Bajawa, lain dengan SMPN 6 Golewa Selatan. Duta sekolah ini menegaskan bahwa kekerasan yang kita saksikan dan dengar selama ini melalui pemberitaan media juga dapat menyebabkan pembangkangan pada siswa. Karena itu mereka minta agar orang tua maupun guru mendidik dengan kasih sayang.

Duta SMP Derugawe minta agar anak dididik dengan kasih sayang sebagaimana disampaikan SMPN 6 Golewa Selatan, tetapi perlu keteladanan dari orang dewasa. Mereka pertanyakan, ‘Mana keteladanan yang bisa kami ikuti?”.

Sementara SMPN 2 Riung menyoroti kekerasan anak oleh guru yang masih sering terjadi. Duta sekolah ini seperti memberi kesaksian di sekolahnya, manakala sering anak menjadi korban kekerasan fisik karena gara-gara terlambat ke sekolah, padahal mereka setiap pagi harus menempuh perjalanan 20 km dari rumah ke sekolah. Demikian keluh kesah duta siswa dari sekolah yang terletak di Riung Barat, dekat perbatasan itu.

Duta dari SLBN Citra Bajawa juga menyampaikan keluh kesah mereka soal kekerasan terhadap anak. Mereka mengungkapkan dalam kalimat pendek saja. Kami ini ciptaan Tuhan juga. Lain dari itu duta SLB ini menegaskan, ‘Kami tidak butuh belas kasih, tetapi cukup penuhi hak-hak kami sebagai anak.

Melalui posternya, duta SMAN 1 Bajawa menunjukkan bagaimana anak yang disekap mulutnya. Dalam menghadapi kekerasan, anak-anak tidak berdaya. Dan ini juga menunjukkan masih banyak kasus kekerasan terhadap anak yang belum terungkap dan tidak dilaporkan.

Pada kesempatan itu, sejumlah anak diberikan kesempatan untuk berdialog dengan Bupati Ngada Paulus Soliwoa bergantian dengan unsur Forkompimda lainnya. Para siswa lebih banyak mempertanyakan seputar kasus kekerasan yang bisa dijerat secara hukum.

Kasus Kekerasan

Dalam surat terbuka siswa yang dibacakan Putri Margareth Eksan dari SMPK Regina Pacis Bajawa, menyebutkan data di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Ngada merilis, sampai pertengahan tahun 2019 di Kabupaten Ngada, sudah terjadi 14 kasus kekerasan pada anak. Mirisnya, kasus pelecehan seksual setiap tahunnya mengalami peningkatan, korbannya bukan hanya dari remaja tapi anak-anak, bahkan pada balita.

Rinciannya, tahun 2018: kekerasan fisik 6 orang, penelantaran 2 orang, seksual 13 orang, yang melibatkan pelaku anak sembilan orang (kekerasan seksual) dan 6 saksi anak-anak dalam kasus kekerasan seksual. Tahun 2019: kasus seksual 10 orang, penelantaran 4 orang, anak pelaku dua orang (kasus kekerasan seksual) dan anak saksi dua orang dalam kasus kekerasan seksual.(Moses/Timorpost.com)

0

0

Happy

Happy

0 %

Sad

Sad
0 %

Excited

Excited
0 %

Sleppy

Sleppy

0 %

Angry

Angry
0 %

Surprise

Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *