Mengenal Lebih Dekat Emanuel Bria Bakal Calon Bupati Malaka 2020.

Read Time3 Minute, 38 Second

Timorpost.com – Adv – Siapa tak kenal Emanuel Bria, terlahir dari keluarga yang sangat kental menjalankan adat budaya Wesei Wehali. Emanuel Bria adalah putra asli Rabasa Ha’in, Malaka, NTT.

Masa kecilnya dihabiskan di Rabasa sebelum melanjutkan sekolah menengah di Timor Timur waktu itu. Pendidikan SMA diselesaikan di Kolese Santo Yoseph yang dikelola para Yesuit.

Studi sarjananya diselesaikan pada STF Driyarkara, Jakarta dan program Magisternya diselesaikan di Paramadina Graduate School of Diplomacy, Jakarta dengan spesialisasi ketahanan energi.

Emanuel juga menyelesaikan pendidikan profesional dalam bidang manejemen strategis di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Selain itu juga pernah menjadi Fellow di Bonn, Jerman pada lembaga Friedrich Ebert Stiftung.

Selain di Indonesia, beliau telah berkarya di berbagai negara di Asia seperti Kamboja, Myanmar, Filipina, Vietnam dan Timor Leste dalam bidang pembangunan berkelanjutan dan tata kelola Sumber Daya Alam. Juga aktif sebagai seorang aktivis anti korupsi dan lingkungan.

Hingga kini Emanuel adalah kepala perwakilan sebuah lembaga riset kebijakan ternama di dunia, Natural Resource Governance Institute (NRGI) di Indonesia. NRGI berkantor pusat di New York, Amerika Serikat.

Selain menjadi nara sumber di berbagai forum nasional dan internasional, beliau juga diundang mengajar di beberapa kampus seperti Paramadina Graduate School of Diplomacy, mengajar kursus tahunan tata kelola Sumber Daya Alam di Universitas Gadjah Mada yang pesertanya dari berbagai negara di Asia Pasifik, University of Queensland, Australia dan Catholic University of Peru.

Meskipun telah berkelana ke semua benua di dunia, Emanuel Bria tetaplah seorang anak kampung dari Malaka. Hatinya selalu tinggal di Malaka tanah kelahirannya.

(Emanuel Bria bersama istrinya Rachel Cicilia Tuerah, putri Minahasa, Sulawesi Utara (Manado).

Emanuel Bria begitu dikenal oleh sekian banyak aktivis dan istrinya adalah Rachel Cicilia Tuerah, putri Minahasa, Sulawesi Utara (Manado). Seorang aktivis mahasiswa jaman pergerakan 98 di Manado, aktivis PMKRI dan aktif di Pemuda Katolik sebagai salah satu pengurus yang kembali menghidupkan Pemuda Katolik di NTT khususnya Malaka.

Begitulah mereka menikah sebagai dua aktivis muda yang penuh idealisme akan perubahan di dalam masyarakat dan Gereja ke arah yang lebih baik. Api perjuangan itu tetap membara hingga sekarang.

Perjuangan Emanuel Bria Bersama Masyarakat dan Anak Mudah.

Emanuel Bria selalu hidup bersama anak-anak muda Malaka yang berinvestasi waktu, tenaga dan biaya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan lewat buku. Menyalurkan buku kepada rumah baca anak bangsa yang dibangun dengan segala kekuranag namun kreatif.

Menurutnya berilmu dan berbudaya adalah fondasi bagi kebangkitan manusia Malaka.Meskipun tinggal jauh dari kampung adat Rabasa Ha’in, selalu berusaha menyempatkan diri untuk terlibat menyelesaikan berbagai masalah di kampung adat.

Bersama semua Fukun dan pihaknya sangat menolak sertifikasi lahan ulayat Rabasa Ha’in sebagai hak milik pribadi beberapa oknum. Lahan ulayat sifatnya milik bersama dan pemanfaatannya diatur oleh para pemangku adat. Klaim pribadi atas lahan ulayat dapat menimbulkan konflik di antara warga masyarakat.UU no.5 tahun 1960 atau UU Pokok Agraria mengakui hak ulayat atas tanah.

Emanuel Bria juga adalah Koordinator Forum Peduli Mangrove Malaka (FPMM), sebuah gerakan anak-anak malaka bersama tokoh-tokoh adat Webiku dan Wehali untuk mempertahankan tanah ulayat dan lingkungan Meti Ktuik Tasi Ktuik.

Memahami pikiran dan hati sesama kita hanya bisa dilakukan lewat dialog yang tulus. Sebab politik selamanya identik dengan jual beli suara, transaksional, atau bisa dilakukan dalam hubungan yang jujur dan terbuka antara rakyat dengan para wakil dan pemimpinnya.

Dengan berdialog bersama masyarakat yakin dan sangat bisa menghadirkan sebuah pemerintahan yang dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat dan bersama rakyat di Malaka.

(Ketika tergabung dalam Forum Peduli Mangrove Malaka (FPMM) memperjuangkan lingkungan hidup di pesisir pantai selatan malaka yang dirusak oleh PT. Inti Daya Kencana)

Perjuangan melawan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) adalah agenda kita bersama sejak reformasi 98. Malaka hanya bisa maju jika kita memastikan pemerintahannya dikelola secara terbuka, bertanggungjawab dan kredibel.

Ketika tergabung dalam Forum Peduli Mangrove Malaka (FPMM) memperjuangkan lingkungan hidup di pesisir pantai selatan malaka yang dirusak oleh PT. Inti Daya Kencana (IDK), pihaknya disebut dengan hinaan sebagai para Mataros.

Setelah pengalaman dihina itu mengendap kami mencoba menafsir ulang kata itu secara positif, sebagai sebuah kekuatan perjuangan dalam karya anak manusia, anak-anak Malaka dimanapun berada.

Diakhir kata dirinya mengisahkan, Aktivisme dalam politik sangat dibutuhkan dari kaum muda untuk mendobrak kemandekan yang lahir dari politik transaksional. Republik ini didirikan oleh anak-anak muda pada jamannya. Berbagai gerakan besar dalam sejarah politik dunia dan Indonesia dimotori oleh anak muda. Gelombang reformasi 98 digerakan oleh anak muda. Demikian juga dengan Perubahan di Malaka pun bisa digerakan oleh anak muda.(Adv/Timorpost.com)

0

0

Happy

Happy

0 %

Sad

Sad
0 %

Excited

Excited
0 %

Sleppy

Sleppy

0 %

Angry

Angry
0 %

Surprise

Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *