Kisah Petani Asal Kabupaten Malaka,Berhasil Mengantarkan Anak Bergelar Doktor.

Read Time6 Minutes, 15 Seconds

Timorpost.com – Adv –  Perjalanan hidup seseorang memang sulit ditebak. Tetapi yang jelas, Tuhan memiliki rencana indah untuk perjalanan hidup setiap anak manusia yang diciptakan-Nya.

Meski hanya sebagai petani tembakau pasangan suami isteri asal kabupaten Malaka NTT, Bernadeta Hoar dan Marselinus Taek, berhasil mengantarkan anak sulung mereka menyelesaikan jenjang pendidikan S3. Berkat kegigihan dan kerja keras membimbing anaknya hingga memperoleh gelar doktor dari Universitas Brawijaya Malang hingga menjadi dosen go internasional sekaligus ahli hukum pidana.

Kegigihan dalam mendidik anak-anak mereka itu patut menjadi contoh bagi masyarakat luas, seperti pasutri asal Malaka yang berhasil membuktikan bila anak miskin atau tidak mampu seperti keluarga mereka itu ternyata bisa meraih cita-cita tinggi dan menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh gelar doktor.

Dialah Simon Nahak. Sang doktor ahli hukum pidana yang Lahir dari keluarga kurang mampu di Belu, 13 Juni 1964 (saat itu Malaka belum mekar dari Belu), Simon Nahak adalah anak sulung dari 9 bersaudara, melewati masa kecil yang sulit, mengejar mimpinya hingga menjadi sang doktor go internasional.

Sang doktor Simon Nahak yang merupakan anak seorang petani tembakau dan pengrajin tenun ikat dari Desa Weulun, Kabupaten Malaka, NTT itu. Kini bergelar doktor dan hingga kini disungguhkan siap bertarung merebut kursi Malaka 1 dalam pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada serentak 2020) mendatang.

Kepada timorpost.com mama Bernadeta Hoar bercerita, sebagai mama dan bapa kandung Ulu Simon, kami tidak pernah bersekolah. Selain karena keterbatasan ekonomi, sekolah saat itu juga sulit dijangkau, jaraknya sangat jauh dengan medan tempuh yang mengkawatirkan.

Walau begitu setelah menikah, sudah berkomitmen menyekolahkan anak kami. Dari delapan bersaudara mereka saling membantu hingga bergelar Sarjana. Niat mereka pun akhirnya terpenuhi, hingga mereka bisa saling membantu dan menopang hingga semuanya bergelar Sarjana S1 hingga S3.

Dimasa Simon masih menduduki bangku SD, setiap minggu bapaknya Simon, berjalan kaki ke pasar Kefamenanu dan So’e untuk jual tembakau, jual ayam, jual kain (tenun). Waktu itu tembakau dihargai Rp 50 per kilo gram. Sementara ayam Rp 25 ribu per ekor, begitu juga kain seharga Rp 25 – 50 ribu per buah. Memang sulit mencari uang saat itu. Tapi demi sekolah anak-anak, semua itu dilakukan bapa dan mama dengan senang hati,” papar mama Hoar.

(Pasangan suami isteri asal kabupaten Malaka NTT, Bernadeta Hoar dan Marselinus Taek, yang berhasil mengantarkan anak sulung mereka menyelesaikan jenjang pendidikan S3)

Menurut mama Hoar, semasa kecil Simon biasa dipanggil dengan nama Ulu Simon. Itu karena ia menjadi kakak bagi 7 adik-adiknya. Saat itu memang biasa disebut Ulu Simon menjadi kepala buat adik-adiknya.

“Waktu kecil, Simon dikenal sebagai pemberani, pintar dan rajin membantu pekerjaan di rumah atau di kebun. Biasanya kalau di rumah, Simon membantu menumbuk padi atau jagung. Waktu itu dia belum memiliki adik perempuan,” kata Mama Hoar.

Puji Tuhan, lanjut mama Hoar, setelah sukses bekerja di Bali, Simon sering mengajak dirinya dan suaminya plesir ke Bali. Dia juga suka membantu anak-anak NTT di Bali yang membutuhkan pertolongan. Saat itu Ulu Simon sudah menjadi Pembela (Pengacara). Saat sudah menjadi pembela, banyak orang barat memberi dia biaya kulia

“Saya selalu berpesan kepada dia, gunakan otakmu untuk membantu masyarakat, jangan dengar omongan orang, biar orang omong derita kita, kita hargai saja, kita tetap hormati dan menghargai mereka,” ucap mama Hoar diamini Marselinus Taek, suaminya.

Di akhir perbincangan dengan wartawan, mama Hoar mengaku terus berdoa agar Simon terpilih sebagai Bupati Malaka dan bisa membawa perubahan bagi Malaka dan NTT.

Sosok sang Doktor Simon Nahak Anak Petani.

Mimpi untuk mengejar ilmu hingga perguruan tinggi, sepertinya tak pernah singgah di benak Simon Nahak. Sebab seperti anak sulung lainnya di Nusa Tenggara Timur, Simon Nahak lebih banyak menghabiskan waktu membantu bapa, Marselinus Taek, di ladang dan mama Bernadeta Hoar, di rumah untuk mengurus adik-adiknya.

Walau begitu, Simon Nahak mampu menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Desa Weoe, tahun 1977. Setelah lulus SD, Simon Nahak tak langsung melanjutkan pendidikan. Sekitar beberapa tahun ia harus bergumul dengan ladang dan ternak, membantu orang tuanya.

Di tengah harapan melanjutkan pendidikan yang nyaris pupus, Simon Nahak memutuskan meninggalkan orang tuanya dan mendaftar masuk SMP St Fransicus Xaverius Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tahun 1981. Pada tahun 1984, Simon Nahak kecil menyelesaikan pendidikan di SMP.

Selanjutnya, Simon Nahak mencoba merantau ke Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di sana, “anak kampung” ini mendaftar di SMU Katolik Giovani Kupang.

Sayangnya, atas permintaan mama kandungnya, Simon Nahak kemudian pindah kembali ke daerah asalnya dan melanjutkan pendidikan di SMU Sinar Pancasila Betun, Malaka. Hal tersebut dikarenakan orangtunya tak mampu membiayai pendidikanya, sebab pada Zaman itu, tak ada yang bisa membantu keluarganya, yang saat itu banyak adik-adinya juga sementara bersekolah SMP dan SD.

Sosok Simon Nahak dikenal cerdas oleh rekan-rekan seangkatan. Bahkan para gurunya, selalu memberikan support agar kelak Simon Nahak dapat menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin.

Tak hanya itu, Simon juga selalu responsif membantu teman sekolahnya di saat mereka membutuhkan bantuan tanpa pamrih. Maklum, ia terbiasa melakukan banyak hal di rumah, terutama dalam membantu adik – adiknya dalam hal mencari biaya.

Tamat SMU tahun 1987, Simon Nahak memilih hijrah ke Pulau Dewata. Ia kemudian mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Warmadewa Denpasar. Saat itu dibiayai oleh sang Guru Anis Mau dan Drs Jhon Letto.

Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, seperti mimpi bagi anak petani ini. Namun berbekal semangat dan keuletannya, Simon Nahak tampil sebagai pribadi yang cerdas.

Bahkan karena kepintarannya, Simon Nahak diangkat menjadi Asisten Dosen pada Semester V di Kampus Universitas Warmadewa, sambil menyelesaikan pendidikan strata satu (S1). Tak salah jika akhirnya, Simon Nahak lulus tahun 1992 dengan menyandang predikat Cumlaude.

Setelah tamat, Simon Nahak terus mengabdi di almamater tercinta. ‘Sambil menyelam minum air’, pria bersahaja ini mencoba terjun ke dunia advokat, hingga namanya dikenal luas masyarakat Bali.

Selama karier advokat, Simon Nahak tak hanya menangani perkara yang menimpa orang Indonesia. Namun sejumlah warga negara asing yang terjerat hukum di Bali, juga menggunakan jasanya sebagai kuasa hukum.

Berbekal jerih payah sebagai dosen dan advokat, Simon Nahak melanjutkan pendidikan ke Magister Hukum Universitas Udayana (Unud) Bali, tahun 2001 hingga 2004.

Seolah tak puas dengan capaian yang ada, Simon Nahak memilih Universitas Brawijaya Malang untuk mengejar gelar Doktor Hukum Pidana pada tahun 2010. Ia pun tamat dengan predikat Cumlaude pada tahun 2014.

Nama Simon Nahak semakin berkibar, bahkan tercatat sebagai pengacara yang populer di Pulau Dewata. Ia bahkan pernah duduk di DPP Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Bali Nusa Tenggara (2010-2015) dan Ketua AAI Kota Denpasar (2014-2019). Simon Nahak juga duduk sebagai Ketua Dewan Pakar PERADI Kota Denpasar (2015-2018).

Meskipun terkenal sebagai lawyer dan sudah bergelar Doktor, Simon Nahak tak meninggalkan almamaternya, Universitas Warmadewa. Simon Nahak masih terus menjadi dosen di kampus ini hingga akhirnya diangkat menjadi Ketua Program Studi Magister Hukum, tahun 2015 hingga sekarang.

Meski sudah menyandang gelar Doktor, bahkan masuk daftar advokat kawakan di Bali, namun Simon Nahak tak pongah. Seperti padi, semakin berisi ia malah semakin merunduk.

“Saya ini bukan siapa – siapa. Saya anak petani yang bahkan tidak tahu baca. Tetapi saya selalu ingat pesan orang tua kandung saya: ‘Anda kalau ingin menjadi orang yang bisa hidup dan bersaing, hanya dengan pendidikan. Bagaimana Anda sekolah bayar sendiri sampai S1 atau S3’. Pesan ini saya selalu ingat dan laksanakan,” tutur Simon Nahak.

Selain karena pesan orang tua, Simon Nahak sukses meraih gelar Doktor karena niat dan kemauan yang tinggi untuk menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang.

“Sebetulnya motivasinya, hanya ingin jadi manusia berguna. Jadilah terang bagi sesama dan sekolah sampai selesai, juga karena perintah Konstitusi. Dirinya ingin cerdaskan kehidupan bangsa, maka harus cerdas. Sehingga berangkat dari kampung dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau mau cerdaskan orang, maka cerdaskan dulu diri sendiri,” pungkas Simon Nahak, yang kini ingin membangun kampung halaman dengan bertarung sebagai calon Bupati Malaka.(Adv/Bereck.Z)

18

1

100 %

Happy

0 %

Sad

0 %

Excited

0 %

Angry

0 %

Surprise

Tinggalkan Balasan