Connect with us

Malaka

Hebat.! Di Malaka, Ibu Ini Lahirkan 7 Anaknya di Kebun dan Hutan. 

Published

on

Read Time2 Minutes, 29 Seconds

TIMORPOST.COM/ MALAKA – Seorang ibu di Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, melahirkan tujuh anaknya tanpa bantuan paramedis.

Dialah Fransiska da Silva, berusia 40 tahun, terakhir pada awal tahun 2019 melahirkan anggota terbaru dari keluarganya di kebun sekaligus yang dijadikan tempat tinggal mereka (Tubaki,Desa Wehali,Malaka Tengah).

Fransiska da Silva (40) melahirkan sebanyak 6 kali, anak kedua kembar. Juliaun Noronya (15) siswa SD Kelas lima, yang merupakan anak pertama, anak kedua si kembar, Margadida (12dan Magdalena (12), Anak ketiga Jualianti (10), Anak Keempat Asia (7), Anak Kelima Alfonso (3), Anak Keenam Alberto (1). Sebanyak 4 orang sudah mulai mendapat pendidikan, diantaranya anak pertama hingga anak ke tiga.

Kata dia, saat ditemui wartawan (11/11/2019), seorang wanita terlihat seperti wanita. Ini adalah hal yang paling alami dan normal di dunia. Saya tidak berpikir ini aneh tapi tuhan sudah buat hidup kami begini. Hidup dengan serba kekurangan hanya pasrah kepada alam dan tuhan.

Dalam budaya lama, para gadis akan menyaksikan ibu mereka melahirkan sehingga mereka akan tahu seperti apa rasanya. Sekarang peluang untuk melakukan ini sangat kecil.Tentunya Ini hal yang langka untuk dilihat. Dikala sudah waktu untuk bersalin, dengan cara manual di alam bebas.

Dia mengatakan terpaksa menggunakan teknik persalinannya yang seperti ini, yah sang suami hanya mampu mencari makan – minum dan pendidikan bagi anak-anak. Biaya rumah sakit pasti mahal. Walau Ibu kandung sering menegaskan, orang yang memilih melahirkan secara diam-diam adalah pikiran orangnya paling bodoh,” katanya.

Selalu melahirkan tanpa hambatan, tidak keberatan. Dia mencintai keluarganya yang bahagia dan sehat dalam serba kekurangan. Bapa mereka sering membatu saat diminta untuk memotong tali pusat anak-anak, selebihnya perjuangannya sendiri.

Harapan hidup dipasrahkan kepada alam, bahagia namun inilah jalan hidup nak, sembari ia mengatakan bahwa dia terinspirasi untuk mengadopsi ‘melahirkan gratis’, (melahirkan di luar tanpa bantuan medis).

Di sana sering melihat orang-orang melahirkan di rumah sakit dan berpikir, akan tetapi keluarganya tergolong serba kekurangan, tidak bisa melakukan ini karena masalah biaya. Itu tidak muda dan murah. Pasti bayarannya mahal

Fransiska, yang tinggal di tanah milik kehutanan itu berkata: “Saya dapat bersantai di luar. Saya bisa melihat ke langit, merasakan rumput di bawah kaki dan fokus. Sedangkan bersalin di rumah sakit, itu tidak mungkin. Biaya mahal.

Sudah terbiasa, hidup dalam kesederhanaan, kekurangan hingga memilih hutan sebagai tempat tinggal.
Itu sangat terisolasi. Ada badai, jadi hanya ada pohon yang patah.Tidak banyak yang mengetahui kehidupan kami disini.

Tuhan bersama kami, tentu tidak keberatan tanpa medis saat itu melahirkan ataupun sakit lainnya. Bukan dia takut tentang kelahiran – terutama karena kelahirannya tanpa bantuan medis, akan tetapi semua akibat hidup dalam segala keterbatasan. Tetapi ia merasa teruji, harus menghadapi ketakutan saya sendiri terlebih dahulu.

Hidup sudah berpasrah pada alam, jadi tidak ingin diliputi rasa takut. Suami datang sesudahnya, dan akan memanggilnya ketika bayi itu lahir.

Bapa mereka adalah mantan pejuang Indonesia, bapa waktu itu bantu tentara Indonesia memikul peluru dan lainnya, naik turun gunung dan masuk keluar hutan perang tahun 75 dan 99 di Timor Leste, sebanyak 7 orang anak ini ia melahirkannya dalam gaya Timor asli yang dimiliki di kebun kami, tanah milik kehutanan Indonesia. (Bereck.Z/Timorpost.com)

1 0
Happy

Happy

0 %

Sad

Sad
0 %

Excited

Excited
0 %

Sleppy

Sleppy

0 %

Angry

Angry
0 %

Surprise

Surprise
0 %

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: