Desa Silawan di Kabupaten Belu,Termasuk Kawasan Rawan Narkoba di NTT.

Read Time1 Minute, 44 Seconds

Timorpost.com – Kupang – Desa Silawan di Kabupaten Belu, dan 6 desa / kelurahan lainnya disebutkan Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT sebagai daerah rawan perencana dan peredaran narkoba Tahun 2019.

Penetapan ini didasarkan pada 8 indikator utama yang terkait dengan kejahatan narkoba, angka kriminalitas / kekerasan, bandar pengedar narkoba, kegiatan produksi narkoba, angka pengguna narkoba, barang bukti narkoba, entri poin narkoba, kurir narkoba dan juga 5 indikator sponsor kost dam hunian dengan privasi tinggi, tingginya angka kemiskinan, ketiadaan sarana publik dan rendahnya interaksi sosial masyarakat.

Tujuh kawasan tersebut yakni Kelurahan Labuan Bajo di Manggarai Barat, Kelurahan Kamalaputi di Sumba Timur, Kelurahan Wailiti di Sikka, Kelurahan Oesapa dan Alak di Kota Kupang, Desa Silawan di Belu, dan Kelurahan Kampung Baru di Sumba Barat,” jelasnya.

Menurut Kasie Pemberdayaan Masyarakat BNN NTT, Lia Novika Ulya, Jumat, 4 Oktober 2019 di kantornya, program pemberdayaan masyarakat anti narkoba akan diprioritaskan pada kawasan itu di Tahun 2019.

“Aktivitas itu melalui pemberdayaan antinarkoba dan pemberdayaan alternatif guna mendukung angka-angka narkotika dan peredaran obat-obatan terlarang agar status kerawanannya tidak meningkat dan dapat diperoleh sesuai dengan kategori aman dan jika diperlukan, maka perlu ditingkatkan untuk obat-obatan terlarang”, jelas Lia.

Lia melanjutkan, sebagai kepala seksi pada tahun 2019 BNN NTT sudah melakukan tes urine untuk sebanyak 6,401 orang. Sementara, jumlah pegiat antinarkoba yang sudah mendapatkan pengembangan kapasitas atau TOT pada pemerintahan pemerintah sebanyak 135 orang.

Lingkungan swasta sebanyak 128 orang, Lingkungan pendidikan berjumlah 85 orang dan Lingkungan masyarakat berjumlah 70 orang. Namun, dalam pelaksanaan tugasnya, kata Lia, masih terkendala masalah geografis atau karena keterbatasan dari segi anggaran.

Sementara itu, Markus Raga Djara, kabid seksi pecegahan BNN NTT menjelaskan, berusaha pada tahun 2019 yaitu pelaksaaan advokasi dan sosialisasi.

“Rencanaya kita akan adakan talkshow akhir Oktober dihadiri oleh Ketua BNN pusat”, ungkapnya.

Sementara Hendrik J Rohi, kepala bidang P2M BNN NTT menjelaskan bahwa ini adalah 36.022 orang NTT yang terlibat sebagai pemakai narkoba. Selain rehabilitasi, ia juga berharap peran serta masyarakat dalam menyambut baik program BNN NTT.

“Kita masih dalam kondisi kesulitan pemulihan. Sejauh ini yang sudah dibangun BNK yaitu Kota Kupang, Belu dan Rote. BNN butuh keterlibatan semua lembaga. Kita mau semua Pemda merespon baik karena ini juga arahan dari kementerian ”, tandasnya.(Kos/Kos)

0

0

100 %

Happy

0 %

Sad

0 %

Excited

0 %

Angry

0 %

Surprise

Tinggalkan Balasan