Anggrainy ; Pada Hati Yang Tak Kembali.

Read Time3 Minutes, 57 Seconds

Anggrainy; Sinar bulan menyapu jalanan yang lengang. Kian tak terdengar suara klakson kendaraan yang biasanya memekakkan telinga. Hanya suara saxsofon Kenny G dalam ‘The Moment’ yang mengiringi pergantian malam dan siang.

Ah sungguh tak berdaya aku hentikan waktu. Makin cepat saja rasanya malam berlalu.

Aku percaya pada firman-Nya bahwa diciptakan malam untuk beristirahat dan siang untuk mencari rejeki. Tapi mengapa masih terlihat dari balik jendela kamar rumah sakit ini perempuan dua lelaki yang menjajakan waktu malamnya hingga rela tak terlelap.

Sungguh beginikah hidup? Apakah dengan begitu kita sudah melanggar titah-Nya? Apakah ini sudah kehendak-Nya karena tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya.

Kalau cara mendapatkan menjadi suatu kemudahan untuk suatu urusan. Lalu bagaimana dengan kupu-kupu malam, ayam-ayam kampus, kucing garong, buaya darat dan sebagainya? jika rejeki sang ilahi itu termasuk soal cara mendapatkannya dari Tuhan lalu alangkah banyak manusia menuntut keadilan imannya.

Bukankah sang ilahi berikan pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kita diuji?
Lalu apakah ada yang terjadi di luar kekuasaan iman? Tidak semua berasal dari Tuhan?  Termasuk dari apa yang kulakukan terhadap Anggrainy selama ia menjadi istriku.

Sejak subuh tadi hingga kini lebih kurang 19 jam, Anggrainy tak kunjung sadar. Kini aku hanya bisa menatap lekat wajah sayunya. Ia tak pernah mengeluh tentang sakit yang dideritanya,walau perutnya dipotong lalu dijahit lagi demi menyelamatkan seorang “gadis munggil” yang ingin melihat dunia. Jelas, Aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatir.

Yang membuat rasa ini membuncah dan terus bertanya, “Sakit apa yang dideritanya sampai ia bisa seperti ini?” Regulator oksigen lengkap dengan selang terpasang. Sesekali kulihat gerakan di bagian perutnya. Hanya untuk memastikan bahwa istriku masih bernafas.

Ayah, Ibu, dan mertuaku sudah pulang ke rumah sejak pukul sembilan malam tadi. Sebenarnya tidak ada batasan waktu pengunjung di malam Minggu. Aku hanya ingin menunggu Anggrainy sendiri tanpa ditemani “gadis munggil”

Mataku sudah ingin mengatup. Tapi tetap apa yang dikatakan dokter  menghantui pikiranku. Besok aku akan cari dokter lain. Setidaknya untuk menghilangkan kekhawatiran yang semakin bersarang.

Tadi pagi, hasil cek laboratorium fungsi hati Maryam memperlihatkan hasil yang sangat mengejutkan. Kadar dua enzim yang dihasilkan oleh sel-sel hati meningkat drastis. SGOT : 159 dan SGPT : 590.

“SGOT (Serum glutamic oxaloacetic transaminase)/SGPT (Serum glutamic pyruvate transaminase) adalah dua macam enzim yang dihasilkan oleh sel-sel hati. Kadarnya akan meningkat dalam darah bila sel-sel hati mengalami kerusakan,” ujar dokter mengawali penjelasan padaku mengenai hasil cek darah tadi.

Nilai normal SGOT adalah 3-45 u/L dan nilai normal SGPT adalah 0-35 u/L.  Artinya, sel-sel hatinya mengalami kerusakan “hatinya rusak. Hingga aku minta pihak rumah sakit untuk memeriksa kembali darahnya.

“Apakah Ibu Anggrainy memiliki riwayat peradangan pada organ hati atau penyakit lain yang pernah dideritanya, Pak?” tanya dokter yang membuatku terdiam. Dokter ingin tahu alur penyebab meningkatnya kadar enzim itu.

Hingga keluh lidahku. Kini  tak bisa menjawab. Aku pun malu sampai tak bisa menyembunyikan mukaku. Seorang suami tapi tak tahu segala tentang istrinya. Jika memang penyakit disebabkan karena kerusakan organ hati, esok akan kuajak Anggrainy bertemu dokter lain di rumah sakit yang berbeda untuk memeriksa kembali penyebab meningkatnya kadar enzim dalam tubuhnya seperti yang disarankan dokter.

Setidaknya aku berhak mencari pendapat kedua, berkonsultasi tentang penyakit yang diderita Anggrainy kepada dokter lain.

Menatap wanita yang selama ini tak pernah sekalipun kupandangi. Wanita yang tak lebih hanya pajangan di kamar saja. Wanita yang sudah kubeli dengan pesta budaya mewah. Sebagai pemilik, aku berhak mempergunakannya atau tidak. Aku merasa berhasil mendapatkan sesuatu yang gigih diperjuangkan orang lain.

Entah kenapa aku begitu peduli. Hati ini apakah tak akan kembali? Bertanya pada ruang yang kini sunyi. Berharap ia sadar dan menjawab segala tanya di hati. Aku semakin tak sabar menanti fajar. Memeluk malam semakin tak sanggup menatap wanita dihadapanku ini lebih dalam.

Ketika hendak mengalungkan tas milik istriku dan meletakkan hasil laboratorium, ada secarik kertas yang terjatuh bertuliskan:

“Teruslah menyucikan hati dengan imanmu. Doa adalah sumber dari ketenangan, sungai yang mengalirkan perasaan tenang itu sendiri, angin sejuk dan air deras yang memadamkan api ketakutan dan kesedihan. Tuhan mengetahui yang terang lagi tersembunyi jauh di dasar hatimu.”

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (kata Anggrainy)

Aku tersentak membaca itu dan tak sanggup meneruskan. Tulisan usang yang ditulis di atas kertas berjudul, ‘Wahai hati kembalilah!’

Diakhir kalimat Anggrainy menuliskan, ‘Engkau mencipta semua takdir dan Aku berikhtiar untuk takdir terbaik-Mu.’

Menambah deretan pertanyaan di hatiku yang akan kutemukan jawabannya entah dimana.?

Pesan Tangis dan kesedihan itu selamanya mesti reda juga, ibarat hujan; selebat-lebat hujan, akhirnya akan teduh jua. Kita akan sama-sama menangis, sementara laksana tangis “gadis munggil” yang baru keluar dari perut ibunya kau namai lagi “Anggrainy”. Bilama dia telah sampai ke dunia dewasa sampaikanlah kisah kita, dia akan insaf bahwa dia pindah dari alam yang sempit ke dalam alam yang lebih lebar.

||Cerpen Anggrainy||Perempuan Pembawa Rindu Dari Ayah||Bereck.Z||

0

0

0 %

Happy

0 %

Sad

0 %

Excited

0 %

Angry

0 %

Surprise

Tinggalkan Balasan