“Anggrainy” Jika Cinta Bebaskanlah!

Read Time4 Minutes, 33 Seconds

Cerpen Anggrainy – Pada siang yang sedang menunggu hujan, di sana lekuk-lekuk kenangan akan kelihatan. Seperti tubuh seorang perempuan dengan baju putih tipis yang sudah terguyur hujan.

Kepalaku menghadap padanya yang di mataku seperti telanjang. Kenangan-kenangan itu telah melepas busananya. Atau aku yang telah hilang rasa, hasrat, ekspektasi. Bisa kulihat begitu tegas setiap lekuknya, setiap cacat padanya.

Di sana, aku melihatmu masih dengan senyum yang sama seperti yang selalu kuingat baik-baik. Kamu kini mengenakan kacamata. Benda yang tak pernah mau kau pedulikan saat masih bersamaku. Kamu telah menjadi lebih tampan, tubuhmu sedikit berisi dan kulitmu bersih.

Aku mencium wangi seorang wanita dan suami. Seorang lelaki ‘baik-baik’. Aku hampir tak percaya bahwa lelaki di hadapanku pernah mengeluh seperti ini: “Mengapa kita hidup dalam dunia di mana manusianya suka sekali dengan pernikahan. Bahkan mereka begitu memuja pernikahan dan menikahinya.”  

Itu dua tahun lalu? Entahlah.

Kini kamu berbicara sedikit terbata-bata.

Oh, mengapa? Aku baik-baik saja. Jika itu yang sedang ingin kamu tanyakan seiring sesal yang mungkin telah kau bawa-bawa setiap mengingatku dalam beberapa tahun ini.

Mungkin pula kamu telah mempersiapkan tiga atau empat skenario untuk kau lakoni saat berjumpa denganku. Tapi harus kukatakan, kamu memilih yang terburuk.

Kau memilih tempat yang salah pula. Di sini sekarang bukan lagi kafe dua tahun yang lalu. Sekarang, ini telah menjadi tempat pembuangan sampah. Setiap pagi hingga petang para pemulung berlalu-lalang, dan plastik-plastik aneka warna berseliweran di mana saja.

Pemkot sedang berusaha menjadikannya sebagai bagian dari proyek taman hijau terbuka untuk publik. Tapi setiap kembali dari tempat ini, truk pengangkut sampah tak pernah kosong.

“Kamu tidak pernah mendengar soal ini?”

Kamu seperti anak kecil, menggeleng dan merengek, “Aku benar-benar tak tahu. Maaf, Non. Banyak yang tak kuketahui selama dua tahun terakhir ini.”

Aku takjub bahwa kamu kini seperti hidup di ribuan mil dari pusat peradaban. Memang, jika kamu hanya hidup di masa lalu, kamu tak lagi punya keinginan untuk meneliti masa depan atau peduli dengan masa sekarang.

“Tapi kamu berhasil mewujudkan cintamu, ingat?” Aku bergumam hati-hati. Ada pintu yang tak boleh dibuka, karena di baliknya berserakan luka-luka.

“Yeah, well.” Kamu menunduk dua detik, menatapku dua detik, dan menunduk lagi.

*****

Pada siang yang sedang menunggu hujan, di sana lekuk-lekuk kenangan akan kelihatan. Seperti tubuh seorang perempuan dengan baju putih tipis yang sudah terguyur hujan.

Sering kali aku menantikan saat seperti ini. Ketika diingatkan akan kenangan oleh alam dan kesendirian. Terkadang oleh beberapa kemalangan.

Di sudut kafe itu serasa sudah seabad berlalu. Kita selalu memilih tempat duduk di sebuah sudut terluar, sebelah kiri dekat pagar bambu yang menyambut kedatangan para tamu.

Di kafe tersebut ada gramofon yang bebas dipakai siapa saja yang membawa piringan hitam. Kadang para pengunjung berebutan ingin memutar lagu yang mereka bawa. Tapi kita selalu menang karena koleksi Nat King Cole, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald dan Tony Bennett yang sering kamu pamerkan membuat pemilik kafe berpihak pada kita.

Kamu asyik membaca dan aku tak pernah lepas dari mesin tik, kecuali saat imajinasiku membutuhkan sedikit senyummu.  

Jika satu senyummu berharga satu imajinasi, maka satu penggal perbincangan kita akan menciptakan satu kenangan yang merangsang ribuan imajinasi.

Kita sangat menggandrungi obrolan-obrolan, tanpa menyadari betapa kenangan bisa sangat mengganggu. Ketika kita tak ingin lagi bersentuhan dengannya. Atau sekadar ingin menciptakan jarak untuk sementara waktu.

Di sudut bagian terluar kafe itu, kita berbincang keras-keras, bersaingan dengan gemeretak kipas angin di atas kepala kita. Pernah kita meminta agar kipas tersebut dimatikan saja, tapi lantas kita pulang dengan baju yang basah dan bau keringat. Setelah hari itu kita tak ingin protes lagi.

Sebuah kenangan kembali melintas. Kau bertanya apakah aku mencintaimu. Aku lupa menyembunyikan tawa. Kau sedikit muram. Kujawab, “Ya.”

Jika saat ini kau menanyakan lagi pertanyaan itu, aku akan menjawab: mungkin.

Ada banyak yang tak bisa diungkapkan secara terus terang ketika kita mengelakkan nilai kebebasan dalam apa yang kita namai cinta.

Kau tahu, dulu aku masih seperti itu. Memahami cinta tanpa konsep yang tegas sehingga mencampuradukkannya dengan letupan-letupan emosi dan hasrat.

Tapi kini aku memahami cinta dengan cara yang lain.

“Jika aku mencintaimu, aku tak perlu bertanya: ‘Apakah kau mencintaiku?’ Aku pun tak akan ketus menyerangmu dengan pertanyaan: ‘Dari mana saja kamu? Siapa dia yang kau temui? Mengapa kamu selalu terlambat?’”

Tentu saja aku pun tak akan pundung bila tak dibelikan sepatu. Tak akan meminta dijemput di sana atau di situ. Mencintai bukan meminta atau bersandar sepenuhnya.

Bagiku, mencintai adalah kata kerja utama dari dua kata kerja lain yang terhubung di dalamnya: merelakan dan membebaskan.

****

Tetapi aku berubah, mengapa kamu tidak? Bahkan kafe-kafe pun telah berubah. Kini lagu-lagu yang diputar di banyak kafe adalah lagu-lagu dari Adele, Taylor Swift, Jessie J, Sia.

Mengapa kamu masih tetap sama? Saat bersamaku kamu mengatakan: she’s the one. Kini, saat bersamanya, kamu melekatkan, you’re the one, untukku.

Keduanya hanya bisa kau katakan padaku. Tidak kepadanya.

Bila aku belum menjelajahi dunia-dunia, mungkin akan kupeluk, kusentuh, kusetubuhi kamu. Akan kuabaikan bahwa luka bisa lebih menyakitkan jika kembali menetap di tempat yang sama.

Tetapi ini bukan hanya tentang luka. Bahwa caramu mencintai yang menularimu hingga jadi pesakitan. Kamu terpenjara olehnya dan kamu membiarkan dirimu terkungkung di dalamnya.

Aku tak ingin mencintai dengan cara seperti itu. Aku tak suka mengatakan cinta dengan begitu mudahnya tanpa peduli seperti apa cinta yang kita anut. Bila itu menyakiti kita atau orang lain, cinta telah luruh, melebur dengan absurditas. Kita berdosa padanya.

Aku tak ingin berdosa pada cinta ketika aku tengah berusaha mencintai. Maka, tinggalkanlah semua tentangku. Atau biarkan aku meninggalkanmu. 

Cerpen : “Anggrainy” Perempuan Pembawa Rindu. Oleh Bereck.Z

0

0

0 %

Happy

0 %

Sad

0 %

Excited

0 %

Angry

0 %

Surprise

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: